Sepertinya short-form content sudah tidak mulai sehat. I’m talking about myself specifically. It’s so toxic I am so addicted to it.
Gue kecanduan konten pendek sebagai konsumen, produsen, dan pekerja.
Sebagai konsumen, gue mengkonsumsi short-form content dengan batas yang tidak wajar: buka Threads, scroll dan baca puluhan konten secara mindless. Walaupun cuma satu utas (ya mungkin belasan kata) yang rasanya ringan, kalau dikali 10 dan semuanya membahas hal berbeda ya sama saja dengan mengonsumsi 10 topik berbeda. Belum lagi kalau bahasannya triggering; entah mentrigger sedih, marah, atau reaksi lainnya.
Belum lagi buka Linkedin, yang seringkali terkamuflase sebagai productive hour mencari insight. It’s true at some point. Tapi beberapa bulan ini rasanya lebih banyak mindless nya daripada mindfulnya.
Belum lagi Stories dan Reels yang benar-benar semudah itu untuk menggeser jempol ke atas atau ke kiri layar. Kadang gue udah bener-bener berasa Zombie yang ga punya kontrol sama jempol dan mata sendiri.
Sebagai produsen, ternyata perilaku konsumsi juga berpengaruh. Gue juga jadi kecanduan membuat konten pendek. Feedback loop nya cepat. Quick dopamine mendorong gue untuk bikin lagi dan lagi. Sebagai kreator, lebih mudah dan menyenangkan buat gue untuk bikin satu quotes, utas, atau simple stories karena buatnya cepat dan feedbacknya instan.
Hasilnya? Setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, gue jadi semi-semi lupa rasanya dan caranya membuat konten panjang. Gue kesulitan menulis tulisan panjang. Gue lupa dan semi-rindu proses tenggelam merangkai pikiran dalam runutan tulisan panjang.
Di titik ini, gue ingat gue pernah menulis soal blog yang sudah mati. Untuk growth dan kebutuhan bisnis, harus gue bilang kepercayaan gue: blog memang “sudah mati”. Sangat tidak direkomendasikan karena ROI nya rendah, lebih baik langsung menulis dan posting di linimasa apapun yang memang langsung sampai ke target audience.
Tapi untuk kewarasan pikiran dan kemampuan menulis, gue malah berpikir tidak ada solusi lain selain kembali ke blog. Gue yang kangen dan butuh menulis panjang harus kembali ke blog. Platform tulisan yang secara desain membuat gue merasa gue harus menulis panjang.
Iya ada opsi untuk menulis di newsletter semacam substack atau blogging seperti Medium. Tapi ga tau ya, rasanya mental modelnya tetap menulis untuk audience. Gue tau ketika gue menekan tombol publish, sudah ada orang di ujung sana yang akan menangkap tulisan ini. That expectation somehow is a cage. I know this sounds not making any sense, but I feel strong about it.
So gue kayaknya akan menulis blog lagi. Menulis panjang lagi. Membiasakan diri untuk berpikir mindful lagi.
Dan sejauh ini, gue mau rutin dan bebas melakukannya.
Di blog ini.
Kita mulai lagi.