Dulu bertanya agama adalah hal yang biasa. Sangat biasa.
Ya sekadar pertanyaan yang diajukan untuk mengenal.
Untuk tahu kapan harus berhenti main misalnya.
Bahkan seringkali tidak perlu ditanya.
Karena saat waktunya tiba, kita akan tahu dan menyesuaikan saja.
“Wah adzan magrib nih, pulang dulu ya”
Ooh dia Islam ya.
“Kalo minggu pagi aku ke gereja. Sore aja ya mainnya”
Ooh dia Kristen.
“Makan yuk, nih ada gule sapi”
“Wah makasih, aku ga makan sapi”
Ooh dia Hindu.
Sudah, sampai di sana saja. Cukup tahu dan jadi saling mengerti.
Setelah sekarang jadi dewasa, kok bertanya agama kamu apa jadi sensitif sekali rasanya.
Tiap ingin bertanya, rasanya takut dicap intoleran dan mau tau urusan orang.
Tak jarang, bertanya agama malah dianggap jadi sumber penghakiman. Bahkan sering jadi pembatas kita berteman.
Ingin rasanya kembali ke masa lalu, saat semuanya sangat sederhana. Saat tahu agama orang adalah cara kita toleran dan menghormati keyakinannya.
Saat kita baik-baik saja berbeda tanpa rasa curiga.
Saat kita cuma tahu, kita hanya dua anak yang butuh teman main bersama.